Minggu, 29 Mei 2011

Aku, Kamu dan Ceritaku untuk Dunia part2

Sesuai dengan judul postingan yang merupakan sambungan dari cerita sebelumnya. Kalo pada bagian “Cewe manis yang berkilau” berakhir di saat Ricco ditolak. Jadi kita sambung sedikit yaA

“Aku puja-puja dirimu

Dengan apa adanya diriku

Kau ada dan selalu tersenyum

Di antara perasaanku

Tapi... nyatanya... aku salah

Telah ku ungkap rasa

Dan tak ada gerak dihatimu padaku



Apa daya

Hatiku tak sampai

Tuk dapatkan cinta darimu

Apa daya

Ku tak menarik lagi

Mungkin lain waktu ku kan mencoba”

(Flanella – Apa Daya)

Yaah, malam itu Ricco memang ditolak mentah-mentah oleh Berlianti. Semangat yang menyelimuti langkah-langkahnya pun sekejap sirna. Ricco merasa menyesal. Tapi dia mencoba berusaha bangkit dari puing-puing kepingan hatinya. Kalo sebelumnya dia menghadapi soal-soal dari pelajaran dengan semangat besar ditambah kata-kata pemanis untuk teman-teman dekatnya. “Hari ini aku sedang semangaat,,kalo ku udah selesai mengerjakan akan ku share dengan kalian”, kalimat itulah yang keluar dari mulutnya kalo sedang semangat atau setelah kembali seangkot bareng dengan Berlianti, karena sekarang mereka sekolah di kota yang sama,jadi jalurnya sama. Tapi kata-kata itu seolah hanya di mulut saja, di hatinya dia meralat kata-kata itu. Tapi yang namanya temen denger bakal dapat jawaban gratis tentu saja tetap mendukungnya.



Oke sekarang sambunganx ane post, tanpa bertele-tele ayoo langsung ceek gan (buat yg dah g sabar ngebaca sambunganx). Gedubraaak,,mana ada yg g sabar nunggu tulisan gaje kaya gini..

Ente jatuh aza,ane dah jatuh dari tadi..




Teman Sepermainan

Tunggu dulu bang penulis,,ane mau ngasih coretan sedikit.dari sub judulx kayanya neeh ga jauh dari masa kecil lagi yaa?

Waah,ente bisa nebak yaA gan,,hebaAat,,!!!

Hedeeeh,,,ane cuma mau komeng....

(langsung menyela) silahkan Gan,,mau adul juga ane kasih,,(lho,???)

Maksud ane komen, apa Ricco tuh g gede2 sih,,or dy MKKB (baca : masa kecil krg bahagia). Krna yg diingtx cm masa kecilnya..

Aahh agan,,semua orang pasti melalui proses ini, begitu juga dengan si Ricco, mungkin dia punya banyak kenangan dengan masa kecilnya.(padahal intinya si penulis sedang ingin mengeluarkan cerita yang berbeda dengan cerpen-cerpen orang.ahaha)

Okeeh deeh gan,ane terima dulu alasan ente..Lanjuuut...

***

Lupakan percakapan di atas sejenak,kita masuk ke bagian cerita, pastikan anda sudah duduk manis,  pandangan mata lurus, ga sedang berada di dapur atau dalam perjalanan, apalagi sambil makan. Sangat berbahaya...

Berkali ku rasakan

ada keraguan, keresahan di dalam hatiku

Rasa berdosa ada,

saat ku katakan engkaulah satunya untukku

Memang harus ku pilih

Dua hati yang telah tumbuh

Di dalam hatiku

Slama ini aku rasakan

Ada kebimbangan

Siapa cintaku

Aku harus bisa...Aku harus tau

Siapa belahan jiwaku

Tak mungkin ku slalu menduakan hati

Yang terus menghantui diriku

(Kata Band – Siapa cintaku)

***

Kembali Ricco memandang sederet rangkaian kata sebuah lagu yang hingga kini tak dapat dipahaminya secara penuh apa makna lagu tersebut. Lagu yang mengingatkannya kepada seseorang, seseorang di masa lalunya....

Saat itu Ricco yang sudah mulai berusaha melupakan Berlianti karena ternyata Berlianti berpacaran dengan salah satu teman SMP-nya dulu. Baginya yang penting Berlianti bahagia, walaupun bukan dengannya. Ricco sudah terbiasa dengan keadaan ini. Dia bahkan menikmatinya, seakan dia dapat title baru dalam hidupnya, yaah sebagai laki-laki pemilik cinta sejati, kaya yang sering dilihatnya di film-film.

Awal tahun baru kudu dengan semangat baru, batin Ricco. Dengan lincahnya dia melangkah menuju ke sekolah. Di sekolah dia tetap menjadi pribadi yang berusaha membagi keceriaan. Berbaur bersama teman-teman. Pulang sekolah seperti biasa disempatkannya istirahat dan menengok buku pelajarannya, kali aja ada PR yang terlewat. Sore harinya kegiatannya pun sama seperti sebelumnya bermain bola di lapangan dekat mesjid.

Tapi hari itu menjadi beda baginya, karena ada sms dan telpon dari no asing ke hapenya. Selidik punya selidik akhirnya tuh orang ngaku juga siapa dia. Dia bilang namanya Violina. Setelah mengingat ingat akhirnya Ricco sadar Violina adalah teman sepermainannya ketika kecil dulu. Lama tak bertemu setelah kepindahan Violin, mereka akhirnya terbuai saling bertanya kabar dan nanya perkembangan masing-masing.

Hari demi hari sms di antara kedua semakin mendalam (sedalam sumur kalee...). hingga akhirnya tercetuslah sebuah pertanyaan standar buat anak-anak yang baru kenalan, yaitu pertanyaan dah punya pacar pa belum..Entah karena situasi dan kondisi mereka yang sedang sama-sama jomblo..Walhasil akhirnya terjadilah sebuah tragedi tanpa darah. Yup, sebuah penembakan, istilah anak-anak masa itu untuk mengungkapkan perasaan dan ingin mengikat diri dalam sebuah jalinan pacaran (Hedeeeeh).

Tanya Bang Penulis”,kata salah seorang yang sedari tadi asyik menyuruput minuman hangatnya.

“Ya, Silahkan!”.

Kalo boleh tau, siapa tuh yang ngeluarin senapannya buat menembak.?”. sebuah pertanyaan kurang bermutu untuk dimuat di blog gaje sekalipun, yang akhirnya membuat saya sebagai penulis menghela napas cukup panjang.

“Kalo mau tau, izinkan saya melanjutkan tulisan cerpen gaje saya ini.”, jawabku.

Yaah, malam itu suasana begitu hangatnya, bintang bersinar terang di langit. Suara jangkrik pun terdengar saling bersahutan. Membuat kehangatan di antara keduanya. Entah terkena angin topan apa malam itu, kedua hati dua anak muda ini saling tergugah untuk mengungkapkan rasa. Hanya saja Violina lebih beruntung untuk mengungkapkannya lebih dulu. Ricco yang mengalami penolakan dikali pertama menembak cewe, merasa tak terbiasa dengan kondisi saat itu. Dihadapanya ada hape dengan rentetan sms berisi puisi ungkapan hati sebagai jawaban atas permintaan Ricco agar dia lebih yakin dengan Violin.

Ricco benar-benar merasa tak biasa ada seorang cewe yang mengungkapkan rasa kepadanya, padahal mereka tak pernah bertemu lagi selama belasan tahun. Terakhir mereka bertemu kala keduanya masih balita. Kala isi idung mereka lebih banyak lendir, dan begitu mudahnya mengeluarkan air mata.

Kini mereka sudah berubah, minimal ga sering ingusan lagi, dan sudah mengurangi ratio nangisnya. Violin sudah memenuhi keinginan Ricco untuk dibikinkan puisi. Alhasil sejak malam itu menjadi hari bersejarah bagi Ricco, pertama kali dia pacaran (Hedeeeh). Sungguh berat ujian pertama yang harus dilalui Ricco disaat perdananya untuk pacaran, karena dia harus mengalahkan jarak dan waktu.

Lho..kenapa mesti jarak dan waktu?”, tanya seseorang sambil menyuruput minuman terakhirnya.

“Inilah kekurangan saya sebagai penulis amatir..lupa ngasih tau kalo mereka berada di kota yang berbeda. Jarak yang cukup jauh untuk orang yang pertama kali pacaran. Bukan cuma jarak,,perbedaan wilayah itu berefek pada perbedaan bagian waktu. Selisih 1 jam. Sehingga terkadang kesulitan menyesuaikan dengan jam masing-masing.”, jawabku.

Ooh..mungkin bisa anda catat di otak untuk tidak melewatkan bagian penting ini, kalau tidak pembaca setia seperti saya ini akan dibuat bingung dengan kegajean ini.

“Baiklah..kita lanjutkan cerita ini.”, jawabku dengan agak enggan untuk meneruskan.

Setelah beberapa hari menjalani cerita cintanya kali ini, Ricco jatuh sakit. Kondisi fisiknya yang lemah kala itu membuatnya terkulai tak berdaya di tempat tidur. Violin yang statusnya sebagai pacar kala itu tak bisa berbuat banyak, dia hanya mendoakan agar pacar barunya ini cepat sembuh, dia memang sangat ingin merawat Ricco, tapi kali ini dia harus bersabar karena lagi-lagi harus berhadapan dengan jarak dan waktu.

Malam itu akhirnya Ricco dibawa ke sebuah klinik, dan dia pun divonis untuk menerima serangan suntik. Setelah disuntik Ricco diberi resep oleh dokter (Ya iya laah,,masa resep dari koki siih). Beberapa hari kemudian akhirnya Ricco pulih, dia kembali fit dan berniat kembali melanjutkan keinginannya bermain bola. Violin sempat melarangnya untuk bermain, karena dia takut Ricco belum sembuh benar, sehinggga berpotensi jatuh sakit lagi.

Tapi Ricco menjawab dengan santai, dia merasa sepakbola adalah bagian dari hidupnya. Violin tak bisa berbuat banyak, dia pasrah dan berharap agar kekasihnya itu tidak sakit lagi, malah tambah sehat karena berolahraga.

Perbedaan lokasi dan waktu justru membuat mereka saling kangen dan ingin bertemu. Satu-satunya cara yang mereka punya adalah memandang foto masing-masing. Foto kala mereka masih kecil. (ApaaaA...memandangi foto anak ingusan,?). habis tak ada lagi foto terbaru mereka. Kala itu internet belum begitu familiar di kehidupan masing-masing. Walaupun Ricco sering ke warnet buat nyari tugas dan buka fs. Tapi diapun belum terlalu familiar dengan fs. Sempat terbersit ide untuk mengirim via MMS. Tapi hasilnya tetap nihil, karena foto yang dikirim tidak masuk.kembali mereka harus mengalah dengan keadaan.

Rasa ingin bertemu begitu menyelimuti Violin, dia sempat beberapa kali meminta Ricco mengunjunginya di kotanya. Tentu saja jawaban Ricco bervariasi, lokasi yang memang jauh, memakan waktu beberapa jam untuk mendatanginya. Apalagi kala itu Ricco belum benar-beanr mahir berkendara. Ke sekolah masih menggunakan angkot. Kalo pun mahir berkendara dia masih belum punya SIM, hampir tak mungkin dengan tubuh mungilnya polisi akan dengan mudah percaya kalo umurnya dituakan.

Puncak rasa ingin bertemu dalam diri Violin terjadi hari itu, kembali dia meminta Ricco untuk mengunjunginya. Jawaban Ricco pun tak banyak berubah. Tapi kali ini Violin bersikeras, dia janji jika Ricco mengunjunginya dia akan mengajak Ricco keliling kotanya dan mengenalkannya kepada teman-temannya. Tapi Ricco saat itu benar-benar ragu mereka bakal bisa bertemu dalam waktu dekat. Dengan berbagai pertimbangan diapun mengeluarkan argumen yang membuat Violin benar-benar marah. Perkataannya yang meragukan bahwa mereka benar-benar akan bertemu.violin pun lebih memilih putus.

Saat itu baru dua minggu mereka resmi pacaran. Ricco sadar ini salahnya. Dia meminta maaf kepada Violin, tapi Violin terlanjur sakit hati dengan jawaban Ricco sebelumnya. Seolah dia tak mau memaafkan Ricco. Ricco merasa menyesal mengucapkan kata-kata itu, karena sebenarnya dia yang sebelumnya selalu dibayang-bayangi oleh bayangan Berlianti sudah mulai bisa membuka hati untuk Violin, sudah mulai menyayanginya. Tapi sekejap rasa sayang itu tak bisa tersampaikan karena hubungan mereka sudah berakhir.

Beberapa hari berlalu. Ricco kembali menjadi pribadi yang suka menyendiri. Semboyan yang ada di hatinya adalah “Cuek bangetz”. Dia berniat menjadi cowo yang cuek, yang tak terlalu peduli pada cewe. Violin sempat menghubungi kaka Ricco. Dia cerita kalo dia masih sayang dengan Ricco, tapi....kata-kata selanjutnya seolah tersangkut dikerongkongan dan sela-sela giginya. Dia hanya meminta Ricco untuk mendengarkan sebuah lagu. Lagu yang kini sedang dipandangi Ricco.

Sekejap Ricco terbangun dari lamunannya. Dipandanginya lirik lagu itu dengan pandangan kosong. Dan sesaat kemudian dia kembali melayang-layang dalam dunia lamunannya. Kembali hadir memori masa lalu. Kala pertemuan pertama mereka setelah mereka sudah beranjak dewasa. Pertemuan yang terjadi beberapa bulan setelah mereka putus. Terjawab sudah keraguan Ricco untuk bertemu dengannya. Dia yang sempat meragukan mereka bakal bertemu kini mendapat jawaban pasti.

Tanya Bang,.”, kata orang yang sedari tadi terlihat sangat menghayati isi cerita saya.

“Ya, silahkan!”, jawabku.

Bagaimana mereka bertemu, dan dimana pertemuan mereka itu, apakah hal itu karena sebuah ketidaksengajaan?

“Wooow,kali ini pertanyaan anda bermutu dan lumayan banyak. Saya jadi gemetar untuk menjawabnya.”

Pertemuan mereka terjadi di kotanya Ricco. Kali ini Ricco memang sudah lumayan mahir berkendara, hanya saja dia masih belum punya izin untuk menempuh perjalanan lumayan jauh. Kala itu sudah sangat sore, Violin bersama keluarganya sedang dalam perjalanan pulang ke kota mereka setelah ada acara keluarga di kota yang tak jauh dari kota Ricco. Hubungan baik kedua orang tua mereka membuat mereka lebih terasa sebagai sebuah keluarga. Pertemuan yang berjalan singkat memang, tapi lumayan berarti bagi Ricco. Karena dia akhirnya bisa melihat secara langsung pacar pertamanya, walaupun sekarang sudah menjadi mantan. Setidaknya dia punya bayangan ketika mengingat-ingat wajahnya nanti. Sayang teknologi hape Ricco tak begitu bagus, sehingga dia tak bisa untuk meminta foto atau mengambil foto Violin.

Violin dan keluarganya izin untuk pulang. Ricco tak sempat ngobrol banyak dengan Violin karena memang sebelumnya mereka merahasiakan hubungan mereka dari kedua orang tua, hanya kaka Ricco yang tahu, itupun ketika mereka sudah putus. Sesampainya di rumah. Ricco menerima sebuah sms, kali ini sms dari Violin. Setelah lumayan lama tak berkomunikasi akhirnya mereka menjalin kembali silaturahmi via sms. Disela-sela smsnya, dengan manja Violin pengen Ricco nemenin dia smsan selama dia dalam perjalanan. Apakah dengan terjalinnya kembali komunikasi ini mereka akan kembali menjalin hubungan??? (Kita tunggu jawabannya di postingan selanjutnya...Bersambuung.....)

***

Seperti cerpen gaje edisi sebelumnya, kali ini juga akan dicantumkan percakapan penulis dengan pengunjung setia.

Penulis : “Naah,sekarang bagaimana menurut ente postingan cerpenbung ane?”

Pengunjung : “Waaah,,mantaab Booz gajenya sudah sedikit kurang,,,tapi kepanjaaangaan..kaya bukan cerpen aja.”

Penulis : “Gitu yaA,padahal harapannya sih masih tetap dengan bumbu gaje yang tak kalah enak. Masalah panjang ane juga bingung mau nyingkatin dibagian mananya.he,,,makasih Gaan..”

Pengunjung : “Sama-sama..kalo boleh dikasih bocoran nih apakah Ricco dan Violin akan kembali menjalin pacaran ?”

Penulis : “Waah,,ane punya etika tak membocorkan kelanjutan cerita.(Padahal saya sendiri masih bingung sambungannya seperti apa)..Kalo menurut ente ntar jadinya seperti apa gan?”

Pengunjung : “Waaah, padahal ane dah penasaran gan..kalo menurut ane, mereka akhirnya balikan dan kali ini ortu mereka tahu,sehingga merekapun dijodohkan.Gimana Gan?”

Penulis : “Waah,,jawabaan yang luar biasa..Luar biasa gaje maksudnya..hehe”

Pengunjung : “Trus apa pesan yang ingin ditonjolin..”

Penulis : “Berhubung saya ingin cepat-cepat pergi, jadi saya sampaikan bagian besar n utama yang pengen ane tonjolin..yaitu berhati-hatilah mengucapkana argumen kepada cewe. Karena bisa jadi alasan kita yang sudah logis tak berarti apa-apa dihadapannya, hanya menghadirkan sakit hati baginya...udah dulu yaA ane buru-buru..”

Harap maklum dengan kondisi cerpenbung yang masih rada gimanaa gitu...hehe

Semoga bermanfaat
;