Senin, 23 Mei 2011

Aku dan "Kritik"


Hari ini hari minggu (Yaah,nenek2 lagi luluran juga pada tau hari ne hari minggu). Maksud Q hari ini minggu yang berbeda..minggu yg menguras tenaga.tapi minggu yang menyenangkan buatQ pada khususnya.
Mankx kenapa?
Aah gapapa kok, Cuma pengen bikin kamu penasaran aza..haha..tawaku lebar..
Huuu,,ga aseek ah kamu Qan..
Biariin,,yg penting aQ menang lagi dipostigan kali ini,,wee..
***
Lupakan percakapan gaje di atas,, hari ini memang hari minggu,, hari ini juga cukup melelahkan,,setelah perjalanan bolak balik bjm-mtp akhirnya tubuh ini Cuma sempet duduk2 rileks ga nyampe 30 menit, harus segera berangkat kembali menyusuri jalan kota. Sesampainya di rumah segera Q bawa tubuh yang terlanjur bau ini mandi. Sholat Ashar dan kembali bergegas menuju sekolah.
Haah,,sekolaah???Bukannya kamu sudah kuliah??
Ada beberapa keperluan untuk nyamperin sekolah.,,laptop udah, bahan materi udah, Lengkaap!!! Segera berangkat..

Sesampainya di sekolah...
Astagfirullah,,bukannya aq pulang tadi ingin mandi n ngambil air putih gelas mungil kecil n siap minum kemasan bertuliskan “amanah”..batinku..yg Q bawa malah sepatu futsal butut yang semestinya Q tinggal karena Q membatalkan niat ikut pertandingan berhubung ada kegiatan di sekolah ini.
Dan benar dugaan Q, tim futsal yang tak sempat Q bela ini akhirnya menelan kekalahan kedua musim ini.
Berapa skornya?
Kecil aza kok selisihnya. Tanpa aQ mereka akhirnya kalah 3-0.
Weitzz,,kamu pemain bintangnya yaA..?
Eitzzz,,jangan salah,,waktu aQ main, kami kalah 9-2.ahaha. tawaku kembali lepas.
Cut!!!kata seorang sutradara yang dengan enggannya mendengarkan dialog gaje diantara kami tadi. “Berapa kali siih ne postingan harus di ulang?”, tandasnya.
Kami pun hanya bisa terdiam. Tapi berhubung aq sebagai pemeran utama dari postingan ini. Berdiri dengan gagah berani sembari mendorong teman di depanku agar semakin mendekat ke sutradara.
“Tapi bos, bukankah...”, belum sempat temanku menyelesaikan akhirnya sebuah tinju petir milik Sutradara yang mantan petinju menghampiri wajah pas-pasannya. Alhasil dia kalah telak di ronde ke-0.
Aku yang sedari tadi berdiri dengan gagahnya, kini kegagahanku sedikit terusik, karena ternyata sakit perut ku kambuuh melihat kejadian tepat di depanku itu. Dengan setengah kegantengan yang ku miliki, ku beranikan untuk menjelaskan bahwa maksud dari temenku tadi itu bahwa memang naskahnya yang seperti itu.
“Ya sudah...siapa yang membuat naskah ga bermutu kaya gitu.?”
Semuanya terdiam...Akupun tertawa memecah keheningan.”Ahaha..ah bos sutradara bisa aja becandanya...”
“Bisa apanya?, Becanda apa??”, sambungnya.
“Bukankah bos sendiri yang membuat naskahnya
***
Yaah,kembali lupakan potongan cerita gaje di atas..Qta fokus..ef o ka u es..FOKUS....!
Postingan ini tidak diterbitkan di hari minggu tanggal 8 Mei yang lalu,,ne postingan terpaksa telat untuk di postingin,,karena tubuh ini terlanjur tak berdaya diterpa angin,,hari minggu kemaren Q ke BJM, ada yg dicari..trus balik ke rumah,mandi, shalat trus go to skul (seperti cerita di atas)..Q pikir aku jadi orang terakhir yg bakal datang,,ternyata eh ternyata...baru beberapa orang yg hadir..ahh sudahlah, batin Q,,luruskan niat,,berapa pun yg hadir itulah orang yang “beruntung” ngedenger suara fals Q..
Aq kena giliran ketiga sih semestinya. Tapi dengan “suara fals” ku akhirnya aku dijadikan yang kedua,,,penyampai bahan sharing pertama sudah berlalu..
“Yaa, selanjutnya akan disampaikan oleh Rizqan gen”, kata sang MC..
“Apa,,’gen’???what the maksud??”, batinku.
Akupun maju, satu langkah,, dua langkah,, tiga langkah,,akhirnya sampai juga di depan kelas..rasa demam kelas menimpaku..mencoba menyesuaikan suasana..”Ayoolah,,toh orang yg hadir ga terlalu banyak”, batinku menyemangati diri.. setelah lumayan sesuai dengan keadaan akhirnya aku coba colok kabel charger laptop trus tekan tombol buat ngidupinnya. Jreeeng...laptop dah idup..muncul dah foto imut ku waktu mau login,,(skip)
Oke file sudah di buka. Tinggal di show kan.Bismillah..sedikit kata pembuka akhirnya ne lidah mulai terbiasa.. sedikit demi sedikit akhirnya bahan sharing tersampaikan.. Suasana semakin meriah karena quiz2 dadakan yang ku berikan, dengan hadiah seadanya..semoga mereka senang menerimanya,,ahaha
Selama lebih dari setengah jam berdiri di depan. Untung aza peserta yang hadir saat itu tak jemu mendengar suara fals ku atau menerima semprotan2 dari mulutku..(skip)
Setelah tampil,Huuft..ku ambil segelas air dan sekantong kacang yang ditawarkan kepada peserta...jujur,,aku haus bangetz..lebih dari setengah jam di depan cuap-cuap ga karuan,,ga da dikasih minuman (derita Loe Qan..)..Selesai bahan sharing yang ketiga.. waktu sudah begitu larut..sehingga si MC bersegera menutup acara..so..”ritual” rutin ku tak sempat dilakukan..
“Mankx apaan Qan ritual rutin kamu?”, seseorang di pojok bertanya.
“Biasa laah..minta kritikan..haha”, jawabku dengan muka polos..
“Whaaatzz???minta kritik,,?apa enakx,,?enakan juga minta kripik..”
“Huuu..kamu ga tau siih betapa nikmatnya kritikan..”, jawabku singkat..
“Apa coba untungnya??”
“Gini,,kritik itu ibarat uang koin,,punya dua sisi., kita anggap aza mata uang koin rupiah..di satu sisi ada gambar n nominal uangnya,sedangkan di sisi lain kita Cuma disuguhin ma burung garuda..”
“Teruus???”
“Naaah,,kritik itu uangnya, kedua sisinya itu cara pandang kita..kalo kita memandang kritik itu dari bagian belakang alias burung garuda,,kita merasakan kengerian si burung garuda yang luarrr biasa..sehingga ketika kita menerima kritikan,,kita takutnya bukan main,cemas dan kebingungan tak berkesudahan, dan yang paling parah down alias jatuuuh dari lantai 2011 (mulai gaje lagi)..”
“Trus?”
“Tras trus tras trus,,jangan dipotong dulu dunk aku mau jelasin..”
“Oke deeeh”
“Sedangkan sisi yang satu lagi,,ada gambar n nominal uang, itulah cara pandang kita terhadap kritik dengan cara pandang positif..karena ketika kita memandang sisi ini kita terkadang merasa takjub dan mudah mengenali uangnya bukan?? Soalnya kita disuguhin gambar menarik dan nominalnya,,”
“Oouch”
“Naah,,terkadang kita ketika nemu koin dijalan,kita jadi mudah mengetahui nilai uangnya kalo yang kelihatan sisi yang ada nominalnya. Terkadang kita juga merasa takut tertipu kalo misalnya ada anak kecil ngasih kamu uang koin, n pas dia ngasih itu, yang kelihatan sisi gambar garuda..terkadang kita ragu kan,,jangan-jangan ini modus penipuan terbaru(mulai ngomong ngaco).”

“Naaah,,pada intinya dilihat dari sisi manapun,,nilai uangnya tetap alias ga berubah,, begitu juga nilai kritik,,hanya saja jika kita memandang sisi nominalnya kita akan lebih mudah mengenalinya,bukan? Dan terkadang kita merasa kesulitan kalo yang kelihatan hanya sisi gambar garuda.. seperti itu juga kritik,walaupun dilihat dari sisi mana aja nilainya tetap alias sama. Tapi dengan cara pandang kita, membuat kita “lebih cepat tahu”, sehingga kita lebih cepat pula mengambil tindakan intropeksi diri..berbeda kalau kita memandang dari sisi yang satunya, kita meraas cemas, bingung dan diselimuti keraguan. Hal ini tentunya sedikit menghambat kita untuk “tahu” dan kesulitan mencari jalan keluar permasalahan.
“Oouch gitu ya Qan,? Aku juga pengen di kritik deh,”
“Siip,,,maka daripada itulah aku sempet kecewa Gan,,karena pas acara di sekolah kemaren gagal menjalankan “ritual” yang sempet mendapat saran untuk tidak melakukan “ritual” itu,.Tapi aku terlanjur jatuh hati kepada kritik, sehingga rasa berat hati tanpa ada dia dalam kegiatan..”(wayyoooo)
***
Kembali ke cerita.. berhubung gagal menjalankan “ritual” saat penutupan acara. Maka aku pas dah di rumah aku sempetin melakukan “ritual” tersebut melalui sms.. sayang sungguh sayang, ternyata yang ngerespon dikit sekali,,gagal deh mendulang kritik pisang rasa asam manis.
Tapi tak apa lah,,insya Allah masih ada agenda pertemuan yang tentunya sayang dilewatkan tanpa cemilan kritik pisang asam manis.
Berhubung tadi pas diperpustakaan nemu buku yang menarik,,ga da salahnya kan dijadikan hidangan penutup dari postingan gaje ini,
“Setiap kali Anda menerima kritik, ada baiknya jika Anda mengikuti strategi yang dikembangkan oleh Lincoln. Di masa perang Saudara di Amerika, Lincoln menerima kritik yang sangat luar biasa. Namun, ia tidak kehilanan nyali dan ia juga tidak berusaha melakukan pembelaan diri. Sebaliknya, ia meunjukkan kemampuan berpikir yang luar biasa. Satu-satunya jawaban yang ia berikan terhadap kritik yang ia terima adalah. “Jika saya diminta untuk membaca, atau menjawab semua serangan yang dilancarkan kepada saya, maka saya tidak akan melayani hal tersebut. Semua yang saya lakukan saat ini, adalah hal terbaik yang saya mampu, hal terbaik yang saya tahu, dan saya bertekad untuk melakukan hal tersebut sampai kapan pun. Jika hasil akhirnya menunjukkan kebenaran saya, maka semua kritik yang saya terima sama sekali tidak ada artinya. Jika hasil akhirnya menunjukkan kesalahan saya,maka sepuluh malaikat yang bersumpah membela saya juga tidak berarti apa-apa.”
Lincoln merupakan seorang tokoh penyelamat Amerika. Semua orang yang mengkritiknya tak pelak lagi harus mengakui keberhasilannya. Mereka harus mengakui bahwa tidak akan pernah ada yang mampu menghilangkan kehebatannya.” (The Power of Your Emotion)
;