Jumat, 06 Mei 2011

Aku vs "SIBUK"



Alhamdulillah.Alhamdulillah..Alhamdulillah,,

Ditengah lomba lari antara tugas dan laporan aq yang bertindak sebagai komentator dalam lomba tersebut masih sempet-sempetin ngeposting di blog gaje ini.

“Haaah..mankx ada Qan lomba lari antara tugas n laporan?”

“Huuu,,ga aseek deh km ne,,ga kenal ma istilah2 mahasiswa.”, balasku.

“Lho???bukannya aq ini bayangan semu mu?berarti aku ya kamu juga dunk??”

“Iya siih,,tpi yang namanya bayangan,,kamu itu bayangan yang ketinggalan bangeeet..haha”(tawa ku lepas, untung ga gigi palsu yang lepas)

“Ahh g asiik ahh kamu neh Qan..kalah lagi kalah lagi...Q mau ngasih saran buat penulis neh, sekali-sekali aku donk yang menang..”

“Thanks sarannya,,tapi yang nulis kan aq,  jadi suka-suka aku donk, kamu duduk aza yang manis disitu. Dengerin aq cerita dulu dunk.!!”


Kembali ke tengah perlombaan lari yang semakin seru. Saat ini tugas sedang memimpin di depan. Tapi dengan cerdik laporan meminimalisir tikungan sehingga jarak keduanya semakin dekat. Garis finish pun mulai terlihat.. Dan siapakah pemenangnya???

“Cut!!!”, teriak sang sutradara. “Hari ini kita cukupkan cerita gajenya.”, sambungnya.

Yaah,,kali ini aku tidak bermimpi,apalagi mimpi delman kaya diposting sebelumnya. “its Real maaan!!!” (alay banget)..teriakku.

Yaah,ku akhiri pembuka gaje dari postingan ini. Saatnya kita melangkah sedikit lebih jauh..

***

Memang harus di akui kerjaan sebagai mahasiswa biasa di salah satu fakultas sebuah universitas ternama membuatku harus jungkir balik banting tulang menyelesaikan tugas dan laporan yang datang silih berganti tak kenal musim maupun materi.

Di tengah tumpukan tugas yang semakin seru kalo diliat, semakin merdu kalo didengar, semakin menggelitik kalo dirasakan, atau semakin menggoyang lidah. (“Loe lagi makan or nonton film komedi sih Qan?”). munculah sebuah pertanyaan kecil yang sedikit dibesar-besarin.

“Pertanyaan apa?”

“Udah ane duga kamu pasti bakal nanya. Ya udah ne ane jawab neh pertanyaannya. ‘Apakah aku tergolong orang yang sibuk?’”

Yaah pertanyaan yang entah muncul dari otak sebelah mana itu belum sempat ku jawab malah tertuang alias tumpah deh ke tulisan ini.

“Apakah aku sudah menjadi orang yang sibuk?”

“Apakah aku sudah menjadi orang yang sibuk?”

“Apakah aku sudah menjadi orang yang sibuk?” (efek dramatisir)

Yaah pertanyaan itu berulang kali lalu lalang diotak ku (artinya otak kamu bukan kota besar Qan,g da macet makanya tuh pertanyaan bisa bolak-balik.aseeek.)

Setelah berusaha mencari jawaban akhirnya ku mulai membuka kamus besar bahasa Indonesia dan akhirnya terpampang arti dari kata sibuk yaitu : banyak yang dikerjakan, giat dan rajin, penuh dengan kegiatan.

“Kalo menurut kitab jadul karangan Mpu JaeDoel Gajeusil, sibuk artinya ikat pinggang, tali pengaman, alat keamanan buat di mobil, pesawat,dll.”

“Jiaah,,kalo itu siiih “sabuk” namanya bukan sibuk..”

===

Ya secara logika kondisiku yang sedang dikejar-kejar laporan n tugas ini bisa dibilang sibuk. Belum lagi tugas ditempat lain, atau kegiatan-kegiatan di beberapa organisasi, seakan menguras waktu n tenagaku.

Tapi ada anomali dalam diri ini, ada sesuatu yang begitu besar menolaknya. Bukan berarti menolak arti dari kamus besar ini. Tapi hati dan pikiran ini seolah tak mau kenal dekat dengan “sibuk”. Yaah sindrom aneh yang menimpaku ini membuatku seakan anti dengan kata ini, bukan berarti tak menerima 100% ketika dibilang sibuk, hanya saja tak mau menyebut “sibuk” untuk diri sendiri.

Keadaan ini justru berbanding terbalik dengan Rizqan semasa sekolah dulu, yang begitu semangatnya mengejar title S3 (baca: Sangat Sibuk Sekali) hingga saat awal-awal kuliah sudah mengejar S4 dan S5 (silahkan deskripsikan sendiri kepanjangannya).

Apakah ini efek dari mendekati title S5?? Apakah dia trauma akan kegagalannya? (Sepertinya bukan trauma deh jawabannya).

Sedikit bercerita sampai saat ini aku tak pernah bisa menggapai title S5, karena ketika aku “memburu” kesibukan, aku mencoba mengikuti beberapa organisasi sekaligus padahal tugas dan laporan praktikum sudah dengan sabar menantiku di bulan-bulan berikutnya. Alhasil ketika sudah mencapai bulan-bulan penuh tugas dan sebagainya, ketika ada agenda-agenda penting di organisasi tubuh kecil ini akhirnya terkulai lemah. Ya aku jatuh sakit dan tepar beberapa hari. Alhasil aku gagal meneruskan langkah di beberapa organisasi.

Ternyata hal itu tak membuatku jera, aku kembali mencoba, dan akhirnya jatuh sakit lagi. Sejak kegagalan yang kedua inilah akhirnya ku seolah tak mengejar title “sibuk” lagi. Walaupun kegiatan tetap seperti sedia kala tapi hati ini tak berminat lagi mengejar title. Tooh itu hanya sebuah singkatan, batinku.

Aku bersyukur dengan keadaan ini.setidaknya pembaca bisa memaklumi ketika melihat ekspresiku yang tak wajar ketika mendengar kata “sibuk”.he

“Aku mau tanya.”

“Silahkan”

“Mau sampai kapan kamu anti dengan kata sibuk itu?”

“Tak ada batasan waktu, yang jelas aq merasa nyaman seperti ini. Bagiku kondisiku saat ini bukan sibuk hanya belum bisa memanajemen waktu. Orang yang sibuk atau yang ngaku sibuk itu semestinya juga dibarengi dengan manajemen waktu yang baik. Sesuai arti dari kamus tadi yaitu banyak kegiatan, giat dan rajin, penuh dengan kegiatan semua arti tersebut tak ada menunjukkan bahwa orang yang sibuk itu orang yang tak bisa

memanajemen waktunya. Coba teliti satu persatu, “banyak kegiatan” sudah semestinya orang yang punya banyak kegiatan bisa menghandle dengan manajemen waktu, “giat dan rajin” ini sudah pasti tentunya dengan manajemen waktu, karena orang yang “sibuk” yang dari arti pertama orang yang mempunyai banyak kegiatan pasti berusaha mencari celah waktu n kesempatan untuk melakukan pekerjaan yang lainnya, berusaha sekali mendayung dua-tiga pulau terlampaui, dan yang terakhir “penuh dengan kegiatan”, ya penuh dengan kegiatan dalam sehari-harinya sehingga tak jauh berbeda dengan arti pertama dan kedua sebelumnya juga memerlukan manajemen waktu yang baik.”

“Aku bukan orang sibuk,hanya saja masih perlu belajar memanajemen waktu. Sibuk tak berarti punya banyak kegiatan sehingga mengorbankan jhal lain. Sibuk perlu manajemen waktu yang baik. Karena kalau tidak kegiatan lain jadi korban, tubuh sendiri lah yang dikorbankan”

***

Segera saya tutup postingan kali ini, karena saya sendiri sudah mengantuk sedari tadi,tapi jari jemari ini terus meliuk-liuk di atas keyboard.

“Apa pesan terakhir anda kepada pembaca yang sudah cape-cape ngebca postingan Anda?”

“Jika kalian berpikir sudah merasa sibuk, saya sarankan berpikirlah lagi. Jangan sampai kata-kata itu menjadi bumerang bagi diri sendiri.”

Semoga coretan ini dapat memberikan manfaat kepada kita semua, terutama bagi saya pribadi..

Wassalam...
;