Rabu, 04 Mei 2011

Sabtu yang luar biasa (sabtu yang biasa di luar???)

Bismillahirrahmanirrahim
Pada hari minggu ku turut ayah ke kota,,naik delman istimewa ku duduk di muka..bla bla bla.. “Bangun bung. Ini sudah jam berapa? Lagian ini bukan hari minggu,ini sabtu..” terdengar suara seseorang sayup-sayup di telinga.
“Whaat???”, batin ku langsung terbangun. Segera deh aku mandi, shalat, santai sejenak, ngisi perut n bersiap berangkat ke kampus. Dalam hati aku yakin hari ini adalah hari yang Zuper sekali. Bukan karena hari ini aku berangkat menggunakan kendaraan kesayangan yang setia menemaniku (saking setianya sampai mau ikutan rebahan di aspal setelah kesenggol orang).
“Lho,,memangnya kemarin – kemarin kamu ke kampus naik apa,? Delman??”
“Ya iya lah kendaraan”, jawabku datar.
“Terus apa bedanya?”
“Ya iya lah beda, kemaren hari apa coba, trus hari ini hari apa? Hayooo”
“Aahh,,aku ini selalu kebagian peran yang kalah di cerita kamu” (berpikir untuk minggat).
“Ahaha,,namanya juga aku yang ngarang,,kamu cukup duduk manis dalam cermin semu ini, oke,,kapan mau ke bagian inti niih kalo kita debat mulu?”, balas ku sekenanya.
“Okee deeh,,tariiik Maaan..”
“Lho,,kita di dunia nyata bro, bukan di mimpi lagi,,masih ke enakan yaA naik delman?”
***
Yaah lupain deh masalah delman di hari minggu, hari ini sabtu, sebenarnya ga da jadwal kuliah hari sabtu, tapi kali ini semangat buat ke kampus. Bukan karena sedang ada incaran di kampus. Tapi karena pribadi ini merasa sedang fit n mood banget. Hari ini pasti banyak motivasi yang ku dapat. Begitulah aku memulai rutinitas di pagi sabtu.
Segera ku kayuh pedal gas kendaraan (pedal gas???) kesayanganku. Sesampainya di kampus terdengar bunyi hape tanda sms. Segera ku cek, kali aja ada pulsa 500rbu nyasar masuk ke hape ku, kan lumayan tuuh. Ternyata eh ternyata itu cuma sebuah sms dari seorang teman. Isinya juga cuma bilang kalo acara dah mulai. Segera ku berlari menanjaki anak tangga yang terjal. Sesampainya di atas, dengan napas ngos-ngosan akhirnya sampai juga di depan ruangan. Isi absen. Lalu duduk manis semanis madu di kursi vip.
Ku buka bungkusan plastik yang menghiasi sebuah buku. “Waah, ni buku pasti menarik, dari covernya saja sudah bikin badan gemetar, kepala rasa melayang, keringat bercucuran, napas ngos-ngosan.” Batinku.
“Memangnya kamu lagi ngapain sih Qan,,kok segitunya?”
“Lho..kok kamu muncul lagi siih, tadi katanya mau minggat?”
“Aku masih suka nyimak kok, sebagai pembaca setia blog kamu.”
“Iya deh, izinkan aku ngelanjutin yaA. Ntar ga kelar-kelar niih”
Mataku terbelalak waktu beberapa lembar membaca isi bukunya. Ternyata yang ngarang ne buku adalah si empunya blog yang pernah aku baca dulu. Padahal ku kira itu bukan blog orang sini. Rasa penasaran semakin menghantui ku, seperti apa rupa si empunya blog itu batinku. Dan kali ini mata ini semakin terbelalak hampir keluar deh bola matanya (aah lebay lu ah Qan..Oke-oke ana khilaf). Ternyata si empunya blog adalah orang yang sering aku lihat di beberapa kesempatan. Dokter muda yang ku kira masih mahasiswa.
Acara pun mulai berjalan seperti sedia kala. Tuh dokter emang gokil. Aku sempat kena kegokilannya. Disuruh menjawab kuis yang akhirnya tak dapat ku jawab. (Hedeeeh,lemah loe Qan, gitu aza g bisa jawab..). Tapi tak seberapa malu yang ku rasakan, walaupun berdiri di depan dengan kikuknya, ditambah aroma tak bisa menjawab pertanyaannya, aku malah senyum-senyum (Memangnya kamu bisa senyum?kamu kan si cuek dari Man 2 Mtp yang katanya terkenal itu.). ga usah didengerin kata-kata benar dari tokoh lain dari cerita ini. Setidaknya aku bukan orang yang benar-benar terkenal. Yaaah ku akui laah sedikit mahal senyuum, kata orang siih. Mungkin ne bibir kurang beberapa senti aza biar terlihat senyum.
Kembali ke pokok cerita. Dokter muda itu benar-benar memberi motivasi, sesuai apa yang ditulis di bukunya. Walaupun sempat beberapa kali kena guyonannya tapi hati ini seolah sudah kenal lama dan terbiasa dengan guyonan itu.
Sebenarnya harus ku akui aku juga memiliki pemikiran yang kurang lebih sama. Bedanya beliau sudah bikin buku dan pikirannya jauh lebih luas dari ku. Kalo dulu ku masih suka bilang nikmatilah rasa sakit (akibat kegagalan) itu. Beliau sudah menemukan teori mengkonversi kegagalan menjadi energi yang luar biasa. (Jadi intinya apa niih? Kamu kurang beruntung??).
“Tidak, aku merasa beruntung. Beruntung karena aku tak perlu membuat buku yang sejenis lagi. Aku harus menemukan teori beda yang ga kalah gokilnya kelak. Jujur senang rasanya seolah punya teman sepikiran yang jauh lebih maju. Allah memang Maha Adil. Tadinya ku kira hanya au yang berpikiran seperti itu (saking kurang bergaul tuh kamu.makanya tuh mata dibuka jangan cuma ditambah).”
Yaah, ku tutup catatan ku hari ini dengan sebuah senyum tersungging (mana mungkin orang bisa liat Qan, kamu nulisnya aza ngumpet dalam kamar.Hedeeh). Orang tak perlu liat ak senyum. Yang penting orang bisa merasakan senyumku. Itu sudah cukup kok. Terakhir Syukron katsir kepada si empunya blog doktermudaliar.wordpress.com yang tak bosan-bosannya beberapa jam memotivasi kami. Senang bisa mengenal anda. Semoga kita bisa bertemu kembali. Kalo tidak di dunia, di tempat yang jauuuh lebih baik daripada dunia. Amiin.
;