Kamis, 05 Mei 2011

Aku, Kamu dan Ceritaku untuk Dunia part1

Huuft,,akhirnya posting lagi diblog gaje ini,,tapi posting kali ini agak berbeda. Karena ditengah-tengah aktivitas ku yang mulai tak terarah ini, ditengah-tengah rong-rongan laporan ditiap malamku, dimasa-masa sehat dan sakit silih berganti. Masih ku sempatkan sejenak menuliskan apa yang ada di otak. Kalo postingan sebelumnya lebih banyak menceritakan aq dan kehidupanku. Kali ini akan ku posting saat-saat ku belajar membuat cerpen. Tak bermaksud mengikuti perkembangan percerpenan masa sekarang yang tak jauh dari cinta-cintaan. Tapi beginilah adanya apa yang terkonsep diotak. Mau tidak mau suka tidak suka, tertuanglah isi pemikiran sederhana ini dalam sebuah cerita. Tanpa ba bi bu lagi. Langsuung aza deeh gan,,.


Cewe manis yang berkilau.

"Bulan dengarkan lantunku

Bintang temanilah aku

Terangi gelap malamku

Aku ingin engkau tau

Ku kan selalu menunggu

hilangkan rasa letihku

Bila nanti kau mengerti

Ku mohon terangi aku

Dalam hatiku

ingatkan aku

Untuk menahan rasa hati lelahku

yang selalu

Rindukan tawamu

Dalam hatiku hanya dirimu

Peri malamku yang menghiasi jiwa yang rapuh

Terlalu merindumu..."

(Kertas Band – Penantian)

Dengan penuh kesadaran dan penghayatan Ricco menyalin lirik sebuah lagu yang menurutnya sesuai dengan isi hatinya. Teringat kembali kenangan di masa lalu kala pertama kali kepindahannya ke sebuah sekolah dasar. (Apaaa???Sekolah dasar..???).

Uupz,maaf gan,saya lupa mengenalkan tokoh yang satu ini (harap maklum masih dalam tahap belajar bikin cerpen sekaligus cerbung).

Perkenalkanlah Ricco, seorang anak beranjak gede yang ga gede-gede. Cowo ga keren lengkap dengan kacamata minus tebalnya ini (maaf.penulis merasa tersaingi kalo menghadirkan tokoh yang keren) ceritanya sedang kasmaran, menyukai seorang cewe manis teman sekolahnya dulu yang bernama Berlianti (maksa banget deh ne kayanya namanya). Sekian perkenalannya. Kita lanjutkan ceritanya.

Teringat olehnya saat pertama-tama masuk ke kelas barunya. Sebagai seorang murid pindahan dari sebuah kota besar. Tak membuat dia lantas dielu-elukan terlebih lagi malah sindiran-sindiran yang di dapatkannya, karena tubuh kecilnya. Ricco kecil seolah tak berdaya disebut-sebut kerdil, dia masih asing dengan kondisi sekolah barunya, keadaan teman-teman barunya. Tapi baginya sekolah sudah dipilih, tinggal menjalaninya. Toh nanti akan terbiasa saja dengan cemoohan-cemoohan nakal itu.

“Hei, yang diujung sana jangan ribuut”, terdengar suara guru yang tak biasanya, padahal sedari tadi beliau dengan enjoynya mengajar, hanya saja deretan depan sebelah kanan hampir tak memperhatikan wali kelas yang sedang mengajar. Selesai pelajran tersebut, sebelum meninggalkan ruangan kelas. Ibu wali kelas berniat mengubah susunan duduk. Agar tidak ribut. Ricco saat itu sebagai newbie di kelas tersebut yang tentunya paling adem ayem karena masih belum terbiasa dengan bahasa baru yang jarang di dengarnya.

“Kamu..kamu murid baru..kamu pindah kesini,kamu lebih pendiam”, kata bu guru kepada Ricco. “Kalo kamu duduk disini mereka tidak bisa ribut lagi”, sambungnya. “Yaaah,duduk sama cewe deh”, batin Ricco. Ketika pelajaran lain di mulai, betapa terkejutnya dia ketika tak sengaja melihat ‘teman sebangku’ barunya ini. “Waaah,cantiiiknyaaa”, batinnya lagi. Rasa ingin terus memandangnya. Ricco berusaha mencari kesempatan agar bisa memandangnya padahal saat itu dia masih bocah ingusan, masa sudah bisa ngebedain cewe cantik dengan yang kurang cantik, mana dah bisa curi-curi pandang (Huuuu,dasaar penulis gaje).

Selepas pelajaran yang isinya hanya curi-curi pandang bagi Ricco. Akhirnya teman sebangkunya ini mau mengajaknya bicara. Di kesempatan itulah akhirnya dia mengetahui nama tuh cewe Berlianti. Baginya ini saatnya menyesuaikan diri dengan teman-teman kelasnya, tentunya pertama-tama dengan si dia. Mulai mengakrabkan diri dengan teman sebangkunya ini, akhirnya dia berniat meminjamkan komik koleksinya kepada Ricco. Tentunya diterima dengan senang hati olehnya. Ricco pun tahu kalau cewe itu suka baca majalah anak-anak, bahkan berlangganan. Hal yang membuat Ricco jadi semangat untuk minta belikan majalah itu ke ayah atau ibunya. Dengan harapan bisa membaca apa yang dibacanya juga.

‘Hari-hari indah’ itu sayangnya tak berlangsung lama. Beberapa hari kemudian dirinya ditransfer lagi ke tempat lain (mungkin tempat yang tak kalah ributnya atau karena tubuh kecilnya dirasa kesulitan mengikuti pelajaran dari ujung kelas). Hal yang membuat dirinya sedikit sedih karena terpisah dengan cewe yang ternyata banyak penggemarnya di kelas.

Beberapa tahun kemudian, masih di sekolah dasar kebanggaan Ricco. Takdir tak mempertemukan dia dan Berlianti dalam satu kelas lagi. Gimana mau duduk sebangku lagi, Sekelas saja tidak. Tapi dia tetap mengagumi Berlianti, ntah dengan alasan apa. Kala itu ada lomba cerdas cermat untuk anak SD. Ricco menjadi satu-satunya cowo yang dikirim untuk mengikuti lomba, dengan dua orang cewe tentunya karena satu tim terdiri atas 3 murid. Kebetulan hanya Ricco dari kelasnya yang diikutsertakan, sehingga dia tidak terlalu tau siapa yang akan menjadi tandemnya nanti.

Ketika hari perlombaan tiba rasa kaget campur senang menghiasi hati Ricco betapa terkejutnya dia karena ternyata Berlianti juga menjadi perwakilan. Walhasil Ricco diapit dua cewe saat lomba itu. Tentu saja hal itu membuatnya semakin kikuk tapi semangat, n berbuah pada lolosnya tim sekolahnya ke semifinal. Tapi akibat kebodohannya-lah akhirnya mereka gagal melangkah ke final.

Rupanya hari itu menjadi kenangan manis baginya, walaupun kembali gagal membawakan piala ke sekolahnya. Tapi dia merasa senang bisa dekat lagi dengan Berlianti. Tapi cerita bahagia mungkin hanya sampai situ. Karena setelah kelulusan Ricco tak ditakdirkan berada satu sekolah lagi dengannya. Tapi mereka pernah satu angkot, hanya saja cuma Ricco yang mengenalinya, dan tuh cewe tak mengenalinya sama sekali,mungkin karena perubahan drastis penampilan Ricco.

SMP berlalu lanjut ke SMA, berharap bisa satu sekolah dengan cewe itu lagi. Tapi harapan itu kecil baginya, karena dalam hati kecilnya dia yakin tuh cewe akan sekolah di kota yang berbeda dengannya. Ada seorang teman mengajaknya untuk mendaftar di SMA favorit di kotanya, tapi Ricco merasa kurang tertarik. Dia lebih memilih sekolah lain yang dia rasa cocok dengannya. Setelah beberapa bulan sekolah di SMA, Ricco dikejutkan oleh sebuah kabar dari teman SMPnya yang mengetahui cerita Ricco tentang Berlianti. Kata temannya tuh cewe ternyata satu sekolah dengannya. Sekolah yang dulu dianjurkan temannya tapi ditolak oleh Ricco. Penyesalan mungkin yang dirasakannya saat itu. Tapi bukan Ricco namanya kalo menerima keadaan dan kesempatan itu dengan berdiam diri. Dia memang tak mungkin untuk pindah sekolah hanya demi mengejar wanita. Satu alasan yang tak akan diterima oleh orang tuanya.

Dengan mengandalkan temannya Ricco berusaha mencari tahu no hp tuh cewe. Rupanya tidak terlalu sulit bagi temannya untuk mendapatkan nomornya. Tapi entah dikerjai oleh temannya itu atau memang temannya salah kasih nomor. Ricco malah menghubungi cewe lain. Tapi untungnya tuh cewe malah memberitahukan kepada “targetwati” (apaan tuh targetwati??Penulis makin gaje aza neh kayanya). Alhasil si target inilah yang lebih dulu menghubunginya.

Saat itu bulan Agustus, tentunya suasana 17-an sangat terasa baik di sekolah atau di kompleknya. Ada beberapa lomba yang tersedia. Ricco pun mengikuti lomba sepak bola olahraga favoritnya. Sebelum mengikuti pertandingan dia meminta doa kepada Berlianti, dan dengan mudahnya tuh cewe memberikan doa kepadanya. Tentu saja hal ini membuat semangat Ricco semakin berlipat-lipat. Dan kali ini berbuah manis dan benar-benar manis. Tim Ricco menjuarai event tahunan ini. Bahkan Ricco jadi top scorernya, walaupun tak ada hadiah khusus buatnya.

Awal kebodohan Ricco adalah ketika dia merasa begitu dekat dengan Berlianti, apalagi info yang didapatnya darinya adalah dia sedang tidak punya pacar sehingga Ricco langsung mengungkapkan perasaannya. Mungkin tuh cewe kaget atau memang ga da perasaan dengannya sehingga tragedi penolakan itu-pun terjadi. Ricco terkulai lemas saat itu, pengalaman menembak cewe pertama kalinya ini tak berbuah manis baginya. Hal ini semakin diperparah ketika cewe itu mulai menjaga jarak dengannya.

Bagaimana nasib Ricco selanjutnya??? (bersambung...)

***

Pada bagian terakhir ini akan ditampilkan wawancara klasik antara penulis dengan pengunjung setia blog ini.

Penulis : bagaimana menurut ente dengan cerpenbung karangan ane ini?

Pengunjung : Mantaab Gaan, Gajenya dapeet bangeetz...

Penulis : Apaaaaa??Cuma gaje,,???

Pengunjung : Hehe,ceritanya masih mengambang gan, apalagi tuh cerita dibuat seperti sedetail mungkin. Ente masih perlu banyak belajar gan.

Penulis : (tertunduk lesu) iya ya,,ane juga bingung ngembangin ceritanya.

Pengunjung : kayanya ente ga bakat deeh bikin dengan tema Cinta.ente bukan ahlinya,,ane tahu itu.Bikin cerpen aza ga bakaat,apalagi mau disambung-sambung tuh cerpen.Hedeeeh...

Penulis : Waah ane suka orang jujur kaya ente..Makasiih Gaaan...

Pengunjung :  Memangnya apa yang ingin ente tonjolin dari cerita ini Gan?

Penulis : Jujur sebenernya ane pengen banget nonjolin jidat ente, klo bibir ente ga perlu ane tonjolin dah menonjol duluan,,ahaha

Pengunjung :  Hedeeh..mulai lagi niih ngibarin bendera perang..

Penulis : ahaha~..sory sory,,ada beberapa poin yang kepingin ane tonjolin gan. Pertama betapa bertahannya seorang cowo menyukai cewe, bayangin aza tuuh dari SD sampai SMA baru dia berani mengungkapkannya. Kedua ketika seseorang punya orang yang dikaguminya, semangat yang dirasakannya ketika orang yang dikaguminya itu mendoakan dan mendukungnya akan menjadi berlipat-lipat besarnya. Dan selanjutnya ane rasa perlu kita jadikan pelajaran buat kita pribadi gan, karena kita diminta jangan gegabah dalam mengambil keputusan untuk menembak seseorang, karena salah langkah disitu kita bisa kehilangan kesempatan-kesempatan yang mungkin datang jika kita tak mengungkapkannya.

Pengunjung : waaah,,tumben neh ente bisa bicara kaya gitu. Seolah-olah ente sudah ahlinya urusan cinta.

Penulis : Ane bukan ahlinya gan,ane masih belajar, sebagai cowo yang pernah ditolak juga ane kayanya bisa deh ngerasaen feel yang dirasakan Ricco.

Pengunjung : Jadi si Ricco menyesal neeh gan ceritanya?

Penulis : Masalah itu kita bahas di cerita sambungannya aza yaa,jujur ane sendiri masih bingung bikin cerita lanjutannya

Semoga karangan saya kali ini bisa bikin anda mengerti, tersenyum, tertawa kecil, ngakak (asal ga ngerangkak aza), n bisa ngerasaen pa yang dirasain si tokoh. Dan terakhir semoga bermanfaat

Wassalam
;