Rabu, 13 Maret 2013

On This Day #13Maret

Akhirnya gue bikin postingan lagi, sesuai judul postingan, kali ini gue mau membagikan cerita tentang sebuah hal yang terjadi bertepatan dengan tanggal hari ini, yang kata temen gue sih ini tanggal yang keren 13-3-13. karena gue bilang gue mau berbagi, jadi harus gue bilang isi postingan gue kali ini adalah kutipan.. yaaah kali ini gue ngutip.,,yaaah kali ini gue ngutip,,iyaaa gue ngutip....#Abaikan

"Pada suatu hari, di sebuah rumah sederhana tak jauh dari Kantor Dinas Pendidikan, terlihat orang-orang yang mulai sibuk menyiapkan hal-hal yang perlu disiapkan tentunya. Banyak hal yang mereka siapkan guna menyambut kehadiran si penerus title keluarga. Ditengah orang-orang yang sedang sibuk-sibuknya terlihat seorang anak kecil yang asik dengan dot kesayangannya di tangan, si rambut ikal itu sedang menatap pada kesibukan-kesibukan orang-orang yang ada disana. Entah apa yang ada dipikirannya kala itu. 

          Beberapa waktu pun berlalu, waktu yang dinanti-nantikan akhirnya datang juga, kesunyian malam akhirnya terpecahkan oleh isak tangis seorang bayi, yang kelak diharapkan bisa mewarnai dunia dengan karyanya. Bayi itu lahir tak didampingi ayah tercinta, karna sang ayah harus menunaikan tugas di luar kota, lahir tanpa sosok ayah di samping tak membuat sang bayi tak di adzankan ketika dia tiba di dunia seperti bayi-bayi lainnya. Sang kakek tanpa harus dikomando langsung meng-adzan-kan di telinga kecil cucu barunya ini. 
          “Allahu Akbar Allahu akbar…”, terdengar sayup-sayup suara adzan di rumah sederhana itu, yang tentunya menandakan telah sampainya waktu Shalat Isya,,Uups,,waktu Isya sudah lewat kala itu, maksud gue menandakan hadirnya sang pejuang kecil di dunia barunya, setelah sembilan bulan lebih berdiam diri mengatur rencana dan menyiapkan diri mengarungi kerasnya dunia.
          Tercatat manis saat-saat bersejarah itu pada sebilah papan di dinding rumah itu. Ya, tanggal 13 bulan Maret tahun 1991. Bertepatan dengan bulan Sya’ban menjelang Ramadhan. Hei, anak ini anak laki-laki, si hitam kecil ini memang laki-laki, tak perlu saya gambarkan seperti apa si bayi tersebut. Si rambut ikal terlihat takjub akan kehadiran “orang baru” dalam keluarganya, si bayi yang kemudian dipanggilnya adik. 
          Entah apa yang dirasakan si rambut ikal dengan dot yang masih melekat di tangan itu kala melihat adiknya itu. Jujur penulis tak dapat menggambarkan lebih lanjut pada bagian ini karena penulis sendiri masih bayi kala itu. #Apasih. Bayi kecil yang akhirnya lebih sering memecahkan keheningan di keluarga tersebut dengan tangisannya. Yaaa, bayi itu doyan nangis, kadar menangisnya lebih banyak daripada kadar menangis bayi-bayi pada umumnya. #BerdasarkanSurvei 
          Setelah orang-orang disibukkan dengan kehadirannya, kali ini keluarga sederhana tersebut sibuk memilih nama yang tepat untuk sang bayi. Mereka mulai memilah-milah nama-nama yang dirasa cocok untuknya. Alhasil terpilihlah tiga kata yang rada “serampangan” untuk menunjukkan identitas yang harus disandang sang anak kelak. Yup, Rizqan Aswadi Noor itu nama gue. Kenapa gue sebut serampangan? Karena dari segi makna, Rizqan itu Rezeki, Aswadi itu Hitam dan Noor itu Cahaya. Bagaimana mungkin ada rezeki hitam cahaya, apa rezekinya berwarna hitam, apa rezekinya bercahaya walaupun berwarna hitam atau seperti apa.? 
          Yup, ibu gue menginginkan nama Rizqan mungkin karena merasa gue akan dicanangkan sebagai pencari rezeki keluarga kelak, secara gue itu cowok, kudu kerja buat memberi nafkah materi ke keluarga. Sedangkan kakek gue pengen nama Aswadi diambil dari salah seorang tokoh agama di Kalimantan Selatan, tempat gue lahir yaitu Bapak H. Aswadie Syukur. Karena sedikit janggal jika hanya mengandalkan dua kata tersebut, maka ditambahkanlah sebuah kata lagi yang konon diadaptasi dari nama depan ibu gue, hanya saja ejaannya dibuat berbeda. Sehingga lengkaplah nama gue Rizqan Aswadi Noor, nama yang begitu keren dan terdengar indah di telinga gue tentunya. Walaupun kelak guru bahasa Arab or agama gue kadang heran dengan arti dari nama gue. But, its okay, I’m fine thanks you.
           Kenalin, gue Rizqan Aswadi Noor, untuk kesekian kalinya tuh nama gue sebut berulang-ulang di bagian awal ini, biar membuat lidah pembaca terbiasa dan tidak kelu melafalkannya, kali aza ntar bakal ada kuis yang pertanyaannya apakah nama paling keren yang disebutkan dalam blog ini.? Sudah pasti jawabannya tidak lain dan tidak bukan ya aku. #Abaikan 
          Gue lahir tanggal 13 maret 1991, bagi sebagian orang mungkin 13 adalah angka sial, tapi tidak bagi gue. Kalo 13 itu angka sial, mungkin gue akan lebih sial jika kelahiran gue tertunda 1-2 hari, atau lebih cepat 1-2 bulan. Ingat gue bilang “mungkin” loh yaa, ntar dibikin panjang neh pembahasannya. 
          Gue lahir di Kota Rantau, sebuah kota tempat gue “numpang” lahir, karena tempat gue tinggal sebenernya jauh di pelosok negeri. Berhubung bapak gue harus menunaikan tugas di kota lain, maka ibu gue memutuskan untuk menetap sementara di kota kelahiran beliau. So, gue lahir di rumah nenek n kakek gue, mungkin dapat dikatakan wajar jika gue merasa kota ini adalah kota kelahiran gue."
Sumber : Karya yg belum sempat gue selesein apalagi sampe diterbitin ("Novelografi")
;