Jumat, 25 Mei 2012

NASEHAT : Sebuah Tulisan Alakadarnya


Wuiiiih,,udah lumayan lama gue ga menjejali blog ini dengan tulisan gue.. Entah ada yang kangen or ga dengan gue,karena gue emang udah jarang banget ngeblog sekarang ini…Jadi ceritanya hari ini gue ngupdate postingan gue lagi,,dan ini sungguh tak biasanya,,karena ini bukan jam galau’nya mahasiswa dan rakyat dunia maya, ini tengah hari bolong yang udah ditambal di dokter gigi.. #Abaikan
Sesuai judul gue mau ngebahas “Nasehat dan Menasehati”, mungkin lebih baiknya gue beri definisinya dulu nih biar lebih terstruktur.. #SejakKapanGueNulisBlogTerstruktur.?
Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia Edisi ketiga pemberian keluarga gue beberapa tahun yang lalu.. Nasehat itu artinya Nasihat.. Lho.??? Gue jadi bingung sendiri, bukannya waktu masih sekolah kalo ada soal tentang EYD, jawaban yang dibenarkan adalah ‘nasehat’ dan ‘nasihat’-pun akhirnya disalahkan, tapi kenapa di kamus ini jadi begitu, apakah gue mesti ngeupgrade kamusnya jadi versi terbaru, apa di edisi terbaru kata ‘nasihat’ udah dihapus. Mungkin guru2 or dosen2 or yang punya kamus bahasa Indonesia edisi terbaru yang kebetulan kesasar di blog gue bisa menjawabkan.
Akhirnya gue putuskan untuk mencari kembali kata ‘Nasihat’ dan inilah definisinya (1) ajaran atau pelajaran baik, anjuran (petunjuk, peringatan, teguran) yang baik; (2) ibarat yang terkandung di suatu cerita dsb. Sedangkan menasehati itu sebuah kata kerja yang berarti memberi nasihat kepada….
Udah jelas kan definisinya,?? Kalo gitu qta lanjut..
Yaaah selagi qta kecil bahkan hingga sekarang udah segitu banyaknya nasehat2 yang telah kita terima, baik itu dari ortu, keluarga, saudara, kerabat dan lain-lain. Saking banyaknya mungkin qta tak bisa menyebutkan udah berapa nasehat yang pernah qta terima… Sepertinya pembaca mulai ingin mematahkan kalimat gue dengan menghitung jumlah nasehat yang pernah diterimanya tapi akhirnya lupa juga #Abaikan
Mungkin sebagian dari qta sudah sering mendengar nasihat seperti ini..
“Jika kau lapar, maka makanlah, jika tak ada uang untuk membelinya maka berusahalah dengan bekerja atau minimal berhutang pada teman.”
Atau nasehat lain.
“Makanlah sebelum lapar dan berhentilah sebelum kenyang”
Atau
“Ketika datang rasa kantuk prioritaskan tubuh dan pikiran untuk istirahat dan tidur.”
Itu adalah salah sedikit contoh nasehat yang benar2 gue akui keberadaannya.
Menurut gue nasehat itu turun temurun. Nenek menasehati Ibu dan Ibu menasehati anaknya. Dan begitulah seterusnya..
Tapi yang terlintas di otak gue adalah Bagaimana jika ditengah perjalanan turun temurun itu ada sedikit gangguan yang akhirnya berdampak pada perubahan nasehat. Yaaah mungkin saat ini belum terasa perubahannya, tapi gue rasa mulai dari saat inilah nasehat2 itu akan berubah.
Kebayang ga, kala generasi saat ini udah menjadi ortu dan menerima tongkat estafet sebagai pemberi nasehat bagi keturunannya. Kalo menurut prediksi gue, nasehat yang akan diberikan nantinya kurang lebih seperti ini :
“Jika kau lapar maka Menge’Tweet’lah, jika tak ada pulsa, maka pinjamlah HP teman ! Menge’Tweet’lah !!! Menge’Tweet’lah!!!”
Atau
“Menge’Tweet’lah sebelum makan dan teruslah Menge’Tweet  setelah kenyang.”
Atau
“Menge’Tweet’lah sebelum dan sesudah makan.”
Atau
“Ketika datang rasa kantuk, prioritaskan tubuh dan pikiran untuk merangkai kata dan Menge’Tweet’lah!!!”
Bahkan yang bagi gue lebih ekstrim adalah
“Kala kau merasa pikiran dan hatimu sedang tak karu-karuan maka Menge’Tweet’lah…”
Udah tau’kan maksud postingan gue, Di zaman modern seperti sekarang, dengan hadirnya social media maka entah ada peraturan dari mana setiap pemilik akun akan merasa punya sebuah hak, hak kebebasan mengumbar kata, dan bahkan yang paling memprihatinkan bagi gue adalah kadang kata itu ga disaring terlebih dahulu, Jujur gue lumayan sering memutuskan hubungan pertemanan di sosmed hanya karena status or tweetnya menurut gue kurang pantas. Tak peduli labelnya sebagai selebnya dunia maya dengan jumlah like or RT yang banyak…
Dan sepertinya sesuai prediksi gue,, kata “MengeTweetlah” akan benar2 menjadi nasehat ulung nantinya,,,
Sekarang udah dibagian penutup dari postingan gue, mungkin akan lebih enak klo gue tutup dengan sebuah kata2 alakadarnya..
“Qta hidup di dunia hanya sementara apalagi hidup di dunia maya.. Sosial media emang kadang membuat qta lupa akan pentingnya menghadapi realita.. tapi bijaksanalah dalam mengumbar kata.”
Semoga qta semua termasuk gue bisa meresapi dan mengamalkannya.
Sekian dari gue, Semoga bermanfaat dan Terima Gajih #Eh ^_^
;